Firman Allah SWT

Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan

07 Agustus, 2009

Wanita Berkepribadian

By: Mel Erphand On: 14.08.00
  • Share The Gag
  • Siti Khadijah, istri Rasul yang pertama, adalah wanita kaya yang tidak hanya berasal dari keturunan bangsawan, beliau juga berwawasan luas dan memiliki kepribadian yang kuat. Empat unsur kelebihan yang beliau miliki tersebut membuatnya menjadi wanita yang tidak hanya berwibawa dan disegani, tapi sekaligus juga dihormati dan menarik banyak kalangan pria Arab bangsawan kaya antri untuk meminangnya, kendatipun waktu itu beliau sudah berusia cukup lanjut, 40 tahun.

    Namun, sebagai pribadi yang memiliki wawasan luas dan berkepribadian kuat ia tidak mudah menjatuhkan pilihan pada sembarang pria. Baginya, harta yang melimpah dari para pria yang meminangnya tidak akan menjamin hidupnya bahagia. Begitu juga ketampanan seorang pria tidak membuatnya tergoda; ketampanan fisik hanya menarik kekaguman sekejap. Begitu juga kebangsawanan, keningratan, “kedarahbiruan” tidak menjamin seseorang memiliki kepribadian yang baik.
    Oleh karena itu tidaklah aneh apabila Siti Khadijah tertarik pada seorang pria miskin bernama Muhammad (waktu itu belum menjadi Nabi dan Rasul). Bukanlah kebangsawanan Muhammad—yang berasal dari suku Quraisy yang ternama—yang membuat hatinya tergerak untuk menikah lagi. Bukan pula ketampanan Muhammad yang mengesankannya.
    Wanita yang baik hati, yang berilmu dan berkepribadian kuat akan selalu tertarik hatinya untuk menikah dengan pria yang menonjol kepribadiannya. Yang jujur, dapat dipercaya, memiliki sifat mengayomi, lemah lembut tapi tegas pada saat yang diperlukan, dan yang tak kalah pentingnya, memiliki wawasan atau ilmu yang mencukupi untuk menjadi pemimpin bahtera rumah tangga selamanya. Selama hidup di dunia.
    Semua karakter atau kepribadian ideal yang diimpikan Siti Khadijah terkumpul pada diri Muhammad. Dan karena itu,wanita berkepribadian kuat seperti Siti Khadijah tidak merasa malu mengambil inisiatif meminang Muhammad sebagai calon suaminya. Pasangan ideal ini hidup dengan harmonis sampai Siti Khadijah wafat lebih dulu. Rasulullah sendiri sering memuji keagungan hatinya dan keluasan wawasannya serta kematangan sikapnya yang sampai mengundang rasa cemburu Siti Aisyah, salah seorang istri Nabi yang dinikahi setelah wafatnya Siti Khadijah.
    Kehalusan budi, kematangan sikap dan keluasan wawasan adalah salah satu tanda seorang wanita yang memiliki kepribadian. Keteguhan dalam memegang prinsip nilai-nilai ajaran Islam dan kemauan untuk menjauhi perilaku yang ditabukan masyarakat setempat adalah standar sejauh mana kita akan dianggap sebagai wanita yang memiliki kepribadian atau tidak.
    Perlu dicatat bahwa kepribadian kuat– yang antara lain ditandai dengan sikap tak mudah hanyut pada arus atau tren negatif– adalah timbul dari determinasi (kemauan kuat) untuk memperbaiki perilaku menjadi lebih baik setiap waktu; hari demi hari sepanjang hidup. Dan terkadang hal ini tidak selalu berkaitan dengan keilmuan yang dimiliki. Sering kita melihat wanita pintar yang berkepribadian sangat menjengkelkan, begitu juga sebaliknya, tak jarang kita menjumpai wanita yang tidak begitu pintar tapi memiliki kepribadian yang menyenangkan dan disukai yang mengundang rasa hormat kita.
    Islam menganjurkan agar kita memiliki keduanya: ilmu dan wawasan yang luas (QS Al Mujadalah 58:11) serta kepribadian yang kuat (QS At Tin 95:4-6) sebagai salah satu kunci menuju kepribadian wanita salihah.

    06 Agustus, 2009

    Self Esteem Kaum Hawa

    By: Mel Erphand On: 13.16.00
  • Share The Gag
  • Ditulis untuk buletin El-Ukhuwah Ponpes Alkhoirot Putri Malang
    wanita-muslimahMinder, semua orang tahu maknanya, adalah sikap yang manusiawi. Semua orang memiliki sikap dan perasaan ini dengan level yang berbeda. Minder adalah manusiawi, akan tetapi menjadi tidak manusiawi lagi ketika kita tidak berusaha untuk menghilangkan sikap dan perasaan minder ini tahap demi tahap.
    Sikap dan rasa minder timbul pada hal dan bidang tertentu yang kita merasa tidak mampu atau merasa lemah dari ukuran standar umum atau ideal.

    Ada dua macam bentuk minder: fisik dan non-fisik. Minder fisik berkaitan dengan kekurangan yang bersifat fisik. Sedang minder non-fisik berkaitan dengan sikap mental dan pola pikir kita dalam menilai diri sendiri, dalam menilai kemampuan diri. Pada sosok pribadi yang memiliki sifat minder non-fisik yang ekstrim, biasanya dia akan merasa tidak memiliki kemampuan sama sekali, merasa orang lain jauh lebih mampu darinya. Tipe semacam ini tidak akan bisa bersikap independen. Ia juga akan sangat bergantung pada orang lain di sekitarnya. Ketergantungan pada orang lain itu akan semakin mengecil bersamaan dengan semakin kecilnya keminderan kita serta meningkatnya kepercayaan pada kemampuan diri sendiri.
    Minder adalah tipikal orang yang bermental lemah. Mental yang lemah akan merasa selalu tidak aman. Selalu gelisah dan kuatir. Karena kerja otak sudah dipenuhi dengan rasa kuatir, takut dan gelisah tanpa sebab atau disebabkan oleh hal-hal kecil, maka kerja otakpun menjadi lemah dan tidak dapat berfungsi untuk memikirkan hal-hal besar yang bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.
    Oleh karena itu, minder harus sebisa mungkin dihindari dan dicari jalan keluarnya dalam rangka mengubah pribadi kita menuju kepribadian yang self-esteem (baca: self estim). Suatu tipe kepribadian yang dimiliki Rasulullah dan para pemimpin besar lainnya (QS Yunus 10:62).
    Self Esteem
    Dapatkah seorang muslimah yang berkepribadian minder (inferiority complex) yang parah dapat menjadi profil yang penuh self esteem? Tentu bisa.
    Pertama, seseorang tidak dapat disebut sebagai muslim dan muslimah yang baik kalau tidak memiliki kepercayaan diri tinggi. Sebab Islam memerintahkan kita untuk hanya bergantung kepada Allah, tidak kepada sesama makhluk (QS Annisa’ 4:36). Perintah ini kalau kita amalkan dengan sepenuh hati membuat seorang muslimah tidak akan lagi memiliki rasa takut dan rasa kecil hati kepada sesama manusia.
    Kedua, Islam juga memerintahkan kita untuk selalu bekerja keras (QS Al Anfal 8:60; Al Jum’ah 62:10; Al Haj 22:78) dalam mereformasi diri dan berevolusi ke arah yang lebih baik di berbagai bidang kehidupan (QS Ar Ra’d 13:11).
    Namun demikian, Islam juga mengakui perlunya proses dan tahapan-tahapan dalam mencapai suatu tujuan. Dalam realitas, tidak ada hasil tanpa melalui perjuangan dan proses panjang yang berliku (Al Balad 90:10-13). Termasuk di antara proses itu adalah dengan banyak membaca terutama profil tokoh-tokoh besar khususnya sejarah Nabi (QS Al Ahzab 33:21); dan “mengaji” realitas keseharian orang-orang di sekeliling kita untuk dipetik hikmahnya (QS Ali Imron 3:137).
    Suatu tujuan baik akan tercapai mungkin dalam waktu singkat, mungkin lama, tapi selagi kita terus mencoba dan berusaha Allah akan memberi jalan menuju sukses yang diridhai (Al Ankabut 29:65).

    Hasil Pertandingan