Firman Allah SWT

Tampilkan postingan dengan label kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepribadian. Tampilkan semua postingan

07 Mei, 2010

Latih Kepribadian Anda

By: Mel Erphand On: 01.41.00
  • Share The Gag
  • Jangan biarkan stress dan pikiran negative mengubah anda menjadi murung, tetaplah gembira dengan latihan kepribadian berikut ini :

    Tetaplah tersenyum.
    Usahakan tetap tersenyum betapa pun anda memiliki hari-hari yang tidak menyenangkan. Hal ini mungkin terasa seperti terpaksa saat itu tapi Anda kemudian akan terheran-heran begitu besar senyum dapat meningkatkan spirit Anda.

    Pandai mengontrol diri.
    Ekspresi wajah merupakan salah satu tanda yang menggambarkan perasaan anda yang paling mudah dikenali. Upayakan ekspresi/mimic muka Anda netral sekalipun ketika Anda tengah marah atau stress dan jangan biarkan dahi berkerut karena kerutan itu perlahan-lahan akan membuat Anda tampak lebih tua.

    Tetap berkomunikasi
    Menutup dan menolak berkomunikasi secara emosi hanya bakal membuat masalah lebih runyam jika hari-hari Anda tetap penuh dengan kegelisahan dan ketegangan. Tidak masalah apapun situasinya, cobalah membuat segala sesuatu mudah dan teratur dengan membiarkan berkomunikasi kepada teman atau rekan kerja Anda.

    Rasakan perasaan orang
    Pikirkan bagaimana Anda ingin diperlakukan orang lain sebelum Anda memuntahkan perasaan kesal kepada orang lain. Tak ada seorang pun di sekitar Anda yang ingin menjadi objek cemberut Anda. Jika Anda tidak ingin diperlakukan seperti itu, jangan memperlakukan orang lain seperti itu.

    Miliki rasa humor
    Seberapa pun beratnya hari-hari Anda, cobalah untuk tidak menghilangkan perasaan humor. Tertawa itu baik bagi jiwa dan membantu membuat orang di sekitar Anda merasa lebih baik dan tunjukkan Anda memiliki kepribadian baik.

    29 April, 2010

    Anda Ber-Karakter atau Ber-Kepribadian ?

    By: Mel Erphand On: 13.28.00
  • Share The Gag
  • Ada perbedaan mendasar antara karakter dan kepribadian. Karakter berhubungan erat dengan watak dasar manusia. Karakter banyak bersinggungan dengan hal-hal yang bersifat batiniyah. Sedangkan kepribadian berkaitan langsung dengan sikap seseorang secara lahiriah.

    Jujur, emosional dan pendiam adalah karakter. Sedangkan datang tepat waktu, berpakaian rapi dan sikap ramah lebih berkaitan dengan kepribadian. Mengubah karakter ibarat memindahkan gunung, sulit tapi ia bisa diarahkan. Sementara kepribadian bisa dipelajari lalu dipraktekkan.

    Misalnya, seorang pemimpin harus memahami karakter anak buahnya secara detil. Jangan sampai ia salah menduga. Orang-orang dekatnya boleh jadi adalah singa yang suatu saat bisa menerkamnya. Sebaliknya, mereka yang selama ini selalu "membangkang" bisa jadi adalah pembelanya.

    Di sinilah psikotes itu menjadi begitu penting fungsinya untuk mengetahui bahwa secara psikologis ia pantas menduduki jabatan yang diperlukan.

    Untuk itu seharusnya psikotes bukan hanya diberlakukan terhadap karyawan level menengah ke bawah. Para calon pejabat : menteri, direktur, ketua DPR, Ketua MPR bahkan Presiden harus dites secara psikologis. Ini penting karena memimpin tak hanya berkaitan dengan kadar keilmuan, tapi juga kejiwaan.

    Inilah yang menjelaskan mengapa ketika Abu Dzar al Ghiffari meminta agar dirinya dipercayai memegang sebuah jabatan, dan Rasulullah SAW menolak. Bukan lantaran secara keilmuan Abu Dzar tak mampu, tapi Rasulullah SAW mengetahui secara psikologis Abu Dzar tidak tepat untuk memegang jabatan itu.

    Kemampuan Rasulullah SAW ini diwarisi oleh Umar bin Khathab. Ketika pasukan kaum muslimin akan berangkat ke medan Qadisiyah, ia berpesan kepada Saad bin Abi Waqqash agar selalu meminta pendapat Thulaihah bin Khuwailid, "Tapi jangan angkat dia sebagai pemimpin" tambah Umar. Sang khalifah tahu, Thulaihah pernah memimpin pemberontakan melawan kaum muslimin. Thulaihah memang punya kemampuan strategi perang, tapi terlalu beresiko jika dijadikan pemimpin.

    07 Agustus, 2009

    Wanita Berkepribadian

    By: Mel Erphand On: 14.08.00
  • Share The Gag
  • Siti Khadijah, istri Rasul yang pertama, adalah wanita kaya yang tidak hanya berasal dari keturunan bangsawan, beliau juga berwawasan luas dan memiliki kepribadian yang kuat. Empat unsur kelebihan yang beliau miliki tersebut membuatnya menjadi wanita yang tidak hanya berwibawa dan disegani, tapi sekaligus juga dihormati dan menarik banyak kalangan pria Arab bangsawan kaya antri untuk meminangnya, kendatipun waktu itu beliau sudah berusia cukup lanjut, 40 tahun.

    Namun, sebagai pribadi yang memiliki wawasan luas dan berkepribadian kuat ia tidak mudah menjatuhkan pilihan pada sembarang pria. Baginya, harta yang melimpah dari para pria yang meminangnya tidak akan menjamin hidupnya bahagia. Begitu juga ketampanan seorang pria tidak membuatnya tergoda; ketampanan fisik hanya menarik kekaguman sekejap. Begitu juga kebangsawanan, keningratan, “kedarahbiruan” tidak menjamin seseorang memiliki kepribadian yang baik.
    Oleh karena itu tidaklah aneh apabila Siti Khadijah tertarik pada seorang pria miskin bernama Muhammad (waktu itu belum menjadi Nabi dan Rasul). Bukanlah kebangsawanan Muhammad—yang berasal dari suku Quraisy yang ternama—yang membuat hatinya tergerak untuk menikah lagi. Bukan pula ketampanan Muhammad yang mengesankannya.
    Wanita yang baik hati, yang berilmu dan berkepribadian kuat akan selalu tertarik hatinya untuk menikah dengan pria yang menonjol kepribadiannya. Yang jujur, dapat dipercaya, memiliki sifat mengayomi, lemah lembut tapi tegas pada saat yang diperlukan, dan yang tak kalah pentingnya, memiliki wawasan atau ilmu yang mencukupi untuk menjadi pemimpin bahtera rumah tangga selamanya. Selama hidup di dunia.
    Semua karakter atau kepribadian ideal yang diimpikan Siti Khadijah terkumpul pada diri Muhammad. Dan karena itu,wanita berkepribadian kuat seperti Siti Khadijah tidak merasa malu mengambil inisiatif meminang Muhammad sebagai calon suaminya. Pasangan ideal ini hidup dengan harmonis sampai Siti Khadijah wafat lebih dulu. Rasulullah sendiri sering memuji keagungan hatinya dan keluasan wawasannya serta kematangan sikapnya yang sampai mengundang rasa cemburu Siti Aisyah, salah seorang istri Nabi yang dinikahi setelah wafatnya Siti Khadijah.
    Kehalusan budi, kematangan sikap dan keluasan wawasan adalah salah satu tanda seorang wanita yang memiliki kepribadian. Keteguhan dalam memegang prinsip nilai-nilai ajaran Islam dan kemauan untuk menjauhi perilaku yang ditabukan masyarakat setempat adalah standar sejauh mana kita akan dianggap sebagai wanita yang memiliki kepribadian atau tidak.
    Perlu dicatat bahwa kepribadian kuat– yang antara lain ditandai dengan sikap tak mudah hanyut pada arus atau tren negatif– adalah timbul dari determinasi (kemauan kuat) untuk memperbaiki perilaku menjadi lebih baik setiap waktu; hari demi hari sepanjang hidup. Dan terkadang hal ini tidak selalu berkaitan dengan keilmuan yang dimiliki. Sering kita melihat wanita pintar yang berkepribadian sangat menjengkelkan, begitu juga sebaliknya, tak jarang kita menjumpai wanita yang tidak begitu pintar tapi memiliki kepribadian yang menyenangkan dan disukai yang mengundang rasa hormat kita.
    Islam menganjurkan agar kita memiliki keduanya: ilmu dan wawasan yang luas (QS Al Mujadalah 58:11) serta kepribadian yang kuat (QS At Tin 95:4-6) sebagai salah satu kunci menuju kepribadian wanita salihah.

    Hasil Pertandingan